Say No to Homestay (katakan tidak pada homestay)
Ditulis oleh Dimas di/pada Mei 22, 2009
Mungkin celotehan saya ini akan menambah panjang daftar orang –orang yang kecewa akan homestay (living together with native people). Banyak agent – agent pendidikan yang menawarkan agar setiap mahasiswa yang ingin belajar diluar negeri untuk tinggal bersama dengan penduduk setempat, dengan alasan agar para mahasiswa bisa terlatih untuk lancar berbahasa inggris, tapi menurut saya hal ini adalah omongan kosong belaka. Maap bukannya saya ingin menambah ruwet permasalahan atau sok tau akan hal ini, tapi saya hanya sekedar sharing betapa banyaknnya kebohongan dan permasalahan yang saya alami ketika saya belajar di Australia yang katanya orang beradab. Mungkin bagi sebagian orang merasa nyaman dengan adanya ini, tapi saya sendiri tidak pernah merasakan kenyamanan ketika saya tinggal di sebuah homestay. Ada juga beberapa cerita sama dari teman –teman dsini yang senasib, tapi saya tidak ingin menceritakan apa yang mereka ceritakan (takut disangka ember…).
15 oktober 2007 pertama kali saya keluar negeri dan Australia adalah negara lain pertama setelah Indonesia negara tercinta yang saya kunjungi. Negeri ini indah, bagus, orangnya sangat helpful dan welcome. Tapi mengapa ketika mendatangi rumah tempat tinggal saya, yang saya dapatkan adalah rumah tua yang jelek dan sudah hampir rubuh. Di dalam bayangan saya akan tinggal dirumah yang mewah dengan fasilitas yang memadai, seperti ketika saya melihat televisi, bahwa di luar negeri selalu hidup dengan kemewahan dan fasilitas yang serba mendukung. Kemudian saya bertemu dengan si empunya rumah dan lebih parahnya lagi, yang punya rumah adalah pengangguran (katanya sih Businessman kalo dilihat dari profil mereka yang saya dapatkan)dan selidik punya selidik yang punya rumah bukan orang asli Australia, mereka adalah penduduk Afrika selatan yang bermigrasi ke Australia dan baru mau mengajukan aplikasi Permanent Resident (PR)Australia. “Oh… it’s suck”. Setelah berbicara panjang lebar, mereka menunjukkan kamar yang akan saya tempati, dan saya kaget dan terkejut bukan main, mereka menuju ke arah gudang dan kamar saya ada di atap gudang tersebut. Oh.. mudah2an saya gak mimpi. Tapi namanya ajaran dari orang tua yang mengatakan harus sabar dan ikhlas, akhirnya saya tinggal di tempat itu, dan lebih begonya lagi kok saya bisa bertahan di tempat sejelek selama 10 minggu dengan uang yang saya bayar AUD$230(Rp.1.840.000)/minggu dengan fasilitas seperti kamar mandi yang bathtubenya buat mandiin kucingnya yang punya rumah, didlam kamar mandi tersebut terdapat box tempat kotoran kucing, toilet yang pintunya tanpa kunci disertai kaca pintu wc yan bolong dan beberpa keburukan lainnya. Jika dibandingkan dengan harga segitu saya bisa mendapatkan Studio apartemen yang full furnished di city. Saya kira dengan harga segitu saya akan mendapatkan fasilitas makan yang enak dan bergizi, tapi ternyata tidak. Setiap pagi saya hanya makan cornflakes atau sereal dengan susu, paling banter juga roti. Siang saya makan di kampus, malam saya harus memasak sendiri untuk makan malam(kata agent saya sih, nanti kamu dimasakin kok..ama yang punya rumah, huh.. mana?). Dan yang paling mengesalkan adalah ketika saya sedang pergi pada hari minggu, tanpa seijin dari saya mereka masuk ke kamar saya dan mengambil kasur yang berada di kamar dan membuat berantakan isi kamar saya (oh..where’s my privacy?is there no privacy anymore in here?). Sampai pada akhirnya pada minggu terkahir disana, saya harus bermalam dirumah teman karena saya tidak diijinkan masuk kamar dan mereka menahan barang – barang saya dengan alasan katanya saya belum membayar uang Homestay untuk 2 minggu terakhir (hei..I have already pay you for 10 weeks, and I have a receipt from that)padahal saya telah membayar uang homestay untuk waktu 10 minggu dan saya ada buktinya. Ada niat saya untuk menuntut mereka, yah dasar orang Indonesia, biar digituin masih sabar aja.
Adapun dari cerita – cerita saya diatas, saya akan memberikan tips – tips bagi pelajar ataupun mahasiswa Indonesia yang ingin memilih belajar di Australia dan mendapatkan kesulitan dalam pencarian tempat tinggal, karena menurut saya Australia adalah tempat yang bagus untuk bisa menimba ilmu sambil belajar mengenal adat istiadat dan budaya lain. Berikut tips – tipsnya:
Selalu mengatakan tidak pada diri kalian bahwa, Homestay bukan satu – satunya tempat untuk bisa belajar bahasa inggris. Masih banyak tempat – tempat lain di Australia untuk belajar bahasa inggris.
Pastikan kembali pada agent pendidikan kalian bahwa kalian tidak memilih Homestay sebagai tempat tinggal pertama kalian di Australia. Anda bisa memilih kampus apartement atau dormitory.
Jika memang tidak ada pilihan tempat tinggal lain selain homestay pada agent pendidikan kalian coba kunjungi situs ini www.gumtree.com.au di situs ini kalian menemukan kemudahan untuk mencari rumah atau mungkin apartemen yang murah, dan mudah – mudahan bisa membantu.
Jika memang kepepet dan tidak punya banyak waktu dan pilihan lain selain homestay. Kalian bisa masih punya opsi untuk memilih homestay yang kalian inginkan (biasanya mereka memberikan profil parents homestaynya terlebih dahulu). Tapi saran saya coba bayar uang homestaynya hanya cukup untuk 2 minggu saja, jangan lebih. Kalo dapat yang enak, silahkan memperpanjang.
Cerita saya ini bukan bermaksud menjelek – jelekkan perusahaan ataupun agent penyedia jasa Homestay yang saya pakai, tapi saya hanya ingin sharing dan mudah – mudahan kejadian yang saya alami tidak dirasakan juga oleh mahasiswa Indonesia lainnya. Karena kita telah membayar atas itu dan kita wajib untuk menerima yang setimpal dengan itu. Selamat belajar dan semoga ilmu yang didapatkan berkah bagi kalian.
Sumber : sigitherdianto.wordpress.com